Cara Backup Data: Cerita Hampir Kehilangan Segalanya

Dipublikasikan: 12 Desember 2025 | Waktu baca: 11 menit | Oleh: Sarah

Backup Storage

Bayangkan: 5 tahun foto keluarga, dokumen skripsi, project kerjaan, semua ada di satu external HDD. Dan tiba-tiba HDD itu nggak terbaca.

Itu yang terjadi ke saya 2 tahun lalu. External HDD 2TB yang saya andalkan untuk "backup" tiba-tiba rusak. Panik nggak ketulungan.

Plot twist: setelah bawa ke recovery center dan bayar Rp 3.5 juta, 70% data berhasil diselamatkan. Tapi 30% sisanya—termasuk foto wisuda dan beberapa dokumen penting—gone forever.

Dari pengalaman traumatis itu, saya belajar: backup itu bukan opsional, dan backup sekali ke satu tempat bukan backup yang benar.

Kesalahan yang Saya Buat

Looking back, saya banyak salah:

Strategi 3-2-1: Aturan Backup yang Benar

Setelah kejadian itu, saya research dan menemukan strategi 3-2-1 yang jadi gold standard backup:

Aturan 3-2-1

  • 3 salinan data Anda (1 primary + 2 backup)
  • 2 media/format berbeda (contoh: SSD + cloud)
  • 1 salinan di lokasi berbeda (offsite/cloud)

Kenapa harus begitu? Karena setiap layer adalah protection dari jenis masalah berbeda:

Setup Backup Saya Sekarang

Setelah trauma itu, ini setup yang saya pakai:

1. Primary Storage: SSD di Laptop

Data sehari-hari ada di laptop. Ini yang sering saya akses.

2. Local Backup #1: External SSD 1TB

Backup mingguan ke external SSD. Kenapa SSD bukan HDD? Lebih tahan banting dan reliable untuk data penting.

Cost: Rp 1.2 juta untuk SSD 1TB external.

3. Cloud Backup: Google Drive + Backblaze

Google Drive (Basic): Untuk dokumen dan file kerjaan. Auto-sync, accessible everywhere. Free 15GB atau Rp 27rb/bulan untuk 100GB.

Backblaze: Untuk full computer backup. $7/bulan (sekitar Rp 105rb), unlimited storage. Background backup yang nggak perlu dipikirin.

💡 Total cost backup saya: ~Rp 130rb/bulan + SSD one-time

Compare dengan Rp 3.5 juta biaya recovery (yang masih gagal 30%), this is a no-brainer.

Opsi Backup Media

External HDD

Best for: Backup arsip besar yang jarang diakses

External SSD

Best for: Backup utama, file yang sering diakses

Cloud Storage

Best for: Offsite backup, dokumen yang butuh akses mobile

NAS (Network Attached Storage)

Best for: Power users, small office, photo/video library besar

Tips Praktis

1. Automate Your Backup

Backup manual itu sering dilupakan. Pakai auto-sync tools: OneDrive, Google Drive sync, atau backup software seperti Backblaze / Acronis.

2. Test Your Backups

Every 3-6 bulan, coba restore random file dari backup. Pastikan backup benar-benar works, bukan korup tanpa disadari.

3. Version Control Penting

Backup yang bagus keeps multiple versions. Kalau file keoverwrite atau kena ransomware, Anda bisa restore versi sebelumnya.

4. Encrypt Sensitive Data

Terutama untuk backup cloud atau external drive yang bisa lost/stolen. Tools: VeraCrypt (free), atau built-in encryption di cloud service.

Quick Start: Setup Backup Minimalis

Kalau overwhelmed dengan info di atas, start simple:

  1. Step 1: Sign up Google Drive atau OneDrive (free tier)
  2. Step 2: Install app di laptop, sync folder Documents
  3. Step 3: Beli external drive (HDD 1TB ~Rp 700rb), backup mingguan
  4. Step 4: SET REMINDER untuk backup mingguan

Ini bukan 3-2-1 perfect, tapi already 100x better than no backup at all.

Kesimpulan: Backup Sekarang, Sebelum Terlambat

Data digital itu irreplaceable. Foto kenangan, dokumen penting, project bertahun-tahun—sekali hilang, nggak bisa diambil kembali (atau very expensive untuk coba recover).

Don't wait until disaster happens. Pengalaman saya: nggak ada yang mirip rasanya kehilangan data yang pernah diandalkan. Prevention is 1000x cheaper than recovery.

Butuh bantuan setup backup atau recovery data? Hubungi COC Komputer atau reach out via Kontak.

Stay backed up! 💾